Minggu, 21 Januari 2018

Rasa Memiliki itu Sudah Tiada

Aku yang tersakiti, aku yang memilih bungkam.
Ya. Memang masih ada inginku untuk memperbaiki.
Tapi itu dulu.
Ketika semua masih awal, dan masih bias.
Ketika aku berbahagia dalam ketidak tahuanku.

Tahukah kamu, aku mencoba...
Melembutkan hati yang keras hasil tataan dan tempaan.
Membuka diri, menyisihkan sebagian tempat.
Merelakan diri untuk menerima berbagai hal baru.
Yang ternyata diam-diam menghancurkan.

AKU MEMUTUSKAN UNTUK PERGI.

Dan berbahagia dalam kebahagiaanku sendiri.
Untuk kembali berbahagia dalam ketidak tahuanku.
Merelakan yang menjadi hakku selama bertahun-tahun sirna.
Ya, rampaslah sudah.
Tidak ada jalan berputar.

Apakah masih ada sedikit celah untuk mengintip ke belakang...
Agar yang ingin kulupakan tidak jadi kulupakan?
Sayangnya tidak.
Rampaslah semua, hai perempuan.
Rasa memilikiku sudah tiada.

Nikmatilah hak-hak yang kau rampas.
Tabur bahagiamu.
Lupakanlah sejenak siapa yang ada di balik bahagiamu.
Tersenyum sinis atau menangis teriris.
Tapi ingat, ada belati di tanganku yang siap mengiris-iris.

Nikmatilah kehidupan barumu, teman.
Nikmat nyaman dalam buaian.
Abaikanlah kami yang bungkam teraniaya.
Nikmatilah keputusanmu sepaket dengan konsekuensinya.
Abaikanlah kami yang kehilangan apa yang kau katakan nyaman.

Nikmatilah, teman.
Rasa memiliki itu sudah tiada.

@gabrielwinoto

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.