Minggu, 21 Januari 2018

Rasa Memiliki itu Sudah Tiada

Aku yang tersakiti, aku yang memilih bungkam.
Ya. Memang masih ada inginku untuk memperbaiki.
Tapi itu dulu.
Ketika semua masih awal, dan masih bias.
Ketika aku berbahagia dalam ketidak tahuanku.

Tahukah kamu, aku mencoba...
Melembutkan hati yang keras hasil tataan dan tempaan.
Membuka diri, menyisihkan sebagian tempat.
Merelakan diri untuk menerima berbagai hal baru.
Yang ternyata diam-diam menghancurkan.

AKU MEMUTUSKAN UNTUK PERGI.

Dan berbahagia dalam kebahagiaanku sendiri.
Untuk kembali berbahagia dalam ketidak tahuanku.
Merelakan yang menjadi hakku selama bertahun-tahun sirna.
Ya, rampaslah sudah.
Tidak ada jalan berputar.

Apakah masih ada sedikit celah untuk mengintip ke belakang...
Agar yang ingin kulupakan tidak jadi kulupakan?
Sayangnya tidak.
Rampaslah semua, hai perempuan.
Rasa memilikiku sudah tiada.

Nikmatilah hak-hak yang kau rampas.
Tabur bahagiamu.
Lupakanlah sejenak siapa yang ada di balik bahagiamu.
Tersenyum sinis atau menangis teriris.
Tapi ingat, ada belati di tanganku yang siap mengiris-iris.

Nikmatilah kehidupan barumu, teman.
Nikmat nyaman dalam buaian.
Abaikanlah kami yang bungkam teraniaya.
Nikmatilah keputusanmu sepaket dengan konsekuensinya.
Abaikanlah kami yang kehilangan apa yang kau katakan nyaman.

Nikmatilah, teman.
Rasa memiliki itu sudah tiada.

Selasa, 25 Juli 2017

Balada Take Home Test Pertama

Senin. And I really hate Monday. Apalagi kalau itu ujian hari pertama, dengan sesi satu take home test yang jam pengumpulannya jam delapan pagi dan baru ujian tertulis di sesi kedua yang jedanya empat jam sendiri. Dan satu hal yang gue udah tahu dari dulu, hari pertama ujian apalagi yang masuknya jam delapan, pasti malamnya bakal susah tidur, yang berarti paginya resiko untuk telat bangun besar sekali. AND WELL, IT HAPPENS! Gue baru bangun jam delapan kurang duapuluh! Walhasil karena keburu-buru, gue nggak mikir panjang soal pake sepatu yang biasanya karena bakal lama ngiketnya. Jadilah langsung turun dan memutuskan buat pake sepatu yang udah buluk dan lama nggak dipake buat ke kampus karena toh habis absen dan kumpulin tes-nya gue bisa langsung pulang ke kos buat ambil barang, makan siang, dan ganti sepatu. Pikirnya, mau sekalian pake sepatu yang buat ke gym karena habis tes tertulis mau langsung latihan.

Ternyata takdir hari itu berkata lain. Setelah menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan take home test itu, gue langsung jalan balik ke kos. Dan dalam perjalanan pulang itu, gue kepeleset. Mungkin karma karena gue ngetawain temen yang lagi digodain sama cowok yang jelas-jelas naksir dia dan temen gue nggak bereaksi. Pas jatuh dan udah terduduk di tanah pun gue masih ketawa. Baru begitu berdiri, ankle sebelah kiri berasa ngilu dan sedikit mati rasa. Dalam hati, gue bingung. Ini pasti ada yang salah sama jalan atau sepatunya karena kaki kiri gue belum pernah sekalipun cedera jadi ototnya masih kenceng semua. Dan setelah jalan dua langkah--yang gue paksain--pandangan gue menggelap. Ini blackout yang dulu juga pernah gue rasain waktu sendi mata kaki sebelah kanan geser. Gue berhenti, dan dalam hati gue masih nyumpah-nyumpah. Gue yakin kaki kiri ini nggak separah yang kanan karena bengkaknya nggak segede yang kanan dulu. Dan setelahnya, gue melanjutkan perjalanan ke kos sambil ngumpat karena kaki kiri gue mulai berasa sakit. Dan penyebab rasa sakit (baca : jatuh) itu adalah karena sol sandal yang tebel itu udah lepas karena lama nggak dipake, dan memang sudah tua. What the...

Keputusan pertama yang gue ambil adalah ngabarin nyokap. Karena buat ngurusin kaki ini, jelas butuh kiriman dana tambahan. Memutuskan untuk minta dana pijit dan beli obat dalem, walaupun nyatanya gue cuma beli obat dalem karena nggak ketemu tukang pijit yang meyakinkan, males pijit (ini akibat saran beberapa orang yang cukup menyesatkan gue pada akhirnya), dan gue yang emang sok yakin bakal sembuh cuma minum obat aja.

Sampai sore hari, rasa sakit di kaki gue masih amat sangat bisa ditoleransi. Gue masih jalan-jalan walaupun sambil ngumpat-ngumpat, dan masih sempet belanja ke supermarket. Baru pas gue mau tidur, rasa sakitnya mulai menggila. Gue nggak bisa tidur terlentang sambil selimutan, karena kaki kiri gue terlalu sakit untuk sekedar diselimutin. Untungnya, gue berhasil tidur nyenyak dan nggak bangun kesiangan lagi besoknya.
Besok paginya, ini neraka buat gue. Kaki ini kakunya melebihi ekspektasi, bahkan gue nggak bisa turun tangga tanpa loncat. Jalan kaki ke kampus yang biasanya gue nikmati dengan sangat kali ini berasa kayak neraka. Sakit bung, sakit! Dan siangnya, ini kaki baru bengkak gila-gilaan. Gue panik karena demi apapun bengkaknya terlampau besar buat ukuran keseleo.

Singkat cerita, gue tetap keukeuh nggak ke tukang urut sampai serangkaian pengobatan pake obat dalem itu selesai. Dan optimisme gue terbukti salah, karena sampai obat terakhir gue minum kaki gue belum bener. Itupun udah pake acara ngabisin obat gosok satu setengah botol. Satu yang udah habis YB Aerosol, dan setengah botol Yokoyoko biru. Dan masih belum sembuh! Akhirnya, dengan berat hati gue putuskan untuk pergi ke tukang urut terkenal di Kalipasir. Langsung sembuh, sih. Tapi sakitnya itu lho, amit-amit banget dah. Mana si engkoh narik uratnya nggak pake intro dan aba-aba lagi. Tapi ya sudahlah, itung-itung kaki kanan gue yang cedera lama ikutan beres... dan besoknya gue udah bisa jalan-jalan lagi, walaupun dengan kedua kaki dibebat perban tebal yang dilapisi cling wrap karena isi kompresnya menyebarkan bau yang cukup nista dan cairannya mulai merembes keluar ngotor-ngotorin celana dan sepatu...

HEHEHE sekian...

Fyi, sampai tulisan ini dipost, otot kaki kiri gue belum sepenuhnya pulih... tapi udah bisa buat latihan beban lagi. Cihuyy


Rabu, 14 Desember 2016

Indonesia ; Ahok dan Al Maidah 51

Pada akhir September lalu, Ahok berpidato di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Tujuan pidato tersebut sebenarnya menjelaskan tentang kelanjutan program perikanan yang tengah berjalan. Di tengah-tengah pidatonya, Ahok sempat meyakinkan warga setempat bahwa terpilih atau tidaknya Ahok dalam pilkada mendatang tidak akan berpengaruh pada berbagai program yang sekarang sedang dijalankan. Ahok mengatakan bahwa dirinya masih memimpin hingga Oktober 2017, sehingga program tersebut masih akan tetap berjalan hingga akhir periode kepemimpinannya. Dalam pidato tersebut, Ahok berkata begini, “Jadi enggak usah pikirkan 'Ah nanti kalau Ahok enggak kepilih pasti programnya bubar'. Enggak, saya (memimpin Jakarta) sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho (orang-orang tertawa-red). Itu hak bapak ibu, ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja.".

Kalimat perkataan Ahok dalam pidato yang divideo oleh seseorang itupun tersebar di dunia maya, seperti biasa. Namun, ada seseorang yang payahnya keliru dalam mentranskrip perkataan Ahok dalam video tersebut, Buni Yani. Dalam transkripnya, Buni Yani menghilangkan kata ‘pakai’ dalam kalimat ucapan Ahok tersebut, sehingga seolah-olah dalam transkrip buatannya, Buni Yani mengatakan bahwa Ahok berkata bahwa umat muslim dibohongi oleh surat Al Maidah 51.

Karena transkrip yang keliru ini, dan karena video dengan transkrip yang keliru ini diunggah ke dunia maya oleh Buni Yani melalui akun facebooknya dengan caption ‘Menistakan Agama’ dan menjadi viral, banyak orang yang kemudian tersulut emosinya. Memang benar, semua orang akan tersinggung apabila mendengar dirinya telah dibohongi agama yang dianutnya. Oleh penganut agama lain pula. 
Namun, dalam kasus ini kesalahan ada pada transkrip. Bukan pada perkataan Ahok itu sendiri. Sialnya, kondisi politik Indonesia saat ini sedang tidak terlalu baik. Keadaan politik yang tidak terlalu baik itupun masih ditambahi kemampuan berpikir rakyat Indonesia yang sebagaian besar masih pas-pasan. Banyak rakyat Indonesia yang sudah tersulut emosinya kemudian tidak mau berpikir lebih dalam lagi. Ahok pastilah salah, sebab sudah Cina, non-muslim, bahas-bahas Al-Quran pula.

Memang, sedikit tidak tepat ketika kita sebagai orang awam melihat seorang politikus berkampanye menggunakan ayat suci. Ayat suci agama apapun itu, tidak tepat rasanya. Namun, apabila sedikit saja kita berniat menengok ke belakang, kita akan melihat berbagai hal yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Perlu kita ketahui bahwa Ahok tidak buta politik. Dan Ahok juga tidak buta agama Islam. Tumbuh di Belitung dan sembilan tahun bersekolah di sekolah negeri di sana, Ahok tidak pernah meninggalkan kelas saat pelajaran agama Islam meskipun siswa/i yang tidak beragama Islam diizinkan meninggalkan kelas. Lalu ada satu kejadian di Belitung, di mana saat itu Basuri—adik Ahok—hendak maju sebagai salah satu calon kepala daerah di sana, dan seorang calon lainnya—yang beragama Islam—di daerah tersebut terang-terangan berkampanye menggunakan surat Al-Maidah 51, dengan tujuan yang jelas, untuk mengalahkan Basuri.

Ahok tahu taktik politik basi itu. Itu taktik lama, bahkan Ahok sudah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Ia hanya mengatakan secara gamblang apa yang pernah terjadi. Toh keputusan akhirnya tetap ada pada para pemilih itu sendiri.

Namun, kali ini harus diakui bahwa Ahok salah perhitungan. Beliau tidak memperkirakan serangan yang akan menyerangnya. Mungkin ini bisa dikategorikan sebagai ‘jegalan’ bagi Ahok, merupakan buah dari betapa dirinya sembarangan dalam bicara, bisa juga.
Tetapi—lepas dari apapun hasil persidangan, salah atau tidaknya Ahok yang saat ini masih menjadi kontroversi—dari kasus ini, kita masyarakat yang berpendidikan sekaligus berpemikiran terbuka diajak untuk lebih mau melihat dan peduli lagi dengan kondisi masyarakat secara keseluruhan yang semakin hari semakin memprihatinkan. Saya—pribadi—meringis saat melihat masyarakat seperti kebakaran jenggot saat merespon kasus ini. Geli, sekaligus getir. Ini bukan pertama kalinya kasus penistaan agama terjadi di negara kita. Hanya saja, kasus ini lebih diblow up dan viral di media massa. Ditanggapi oleh orang-orang berpemikiran cekak pula. Lengkap sudah.
Terkadang rasanya seperti dikelitiki saat melihat kaum-kaum ‘karbitan’ itu berteriak-teriak, lengkap dengan atributnya, menuntut keadilan. Keadilan macam apakah? Keadilan yang memang adil bagi seluruh rakyat Indonesia, keadilan bagi kaum A atau kaum B saja, atau keadilan hanya bagi kaum-kaum yang hobi berteriak-teriak dengan atribut lengkap itu? Kalau memang memperjuangkan keadilan untuk semua, mengapa harus dengan cara demo? Tak bisakah datang, menemui pemimpin negara dengan baik dan sesuai prosedur, dan mengikuti dulu proses hukum yang ada?
Kasus ini, bukan hanya menyangkut agama saja, namun menyangkut semua aspek dalam negeri ini. Menyangkut soal politik, dan keadilan yang sudah lama tidur. Tentang kerelaan masyarakat serta ketaatan mereka terhadap hukum. Tentang nasionalisme. Tentang banyak hal. Kasus ini, teguran bagi seluruh warga negara Indonesia.


Ps. Ini tugas kuliah saya. Ada bagian dalam tugas yang tidak dimasukkan, karena sebenarnya enggak penting-penting amat. Ini ulasan pribadi saya, bahasanya agak 'kagok' karena sudah lama nggak nulis tentang politik.
Politik, dunia sesat yang hanya asyik untuk diamati. Panggung sandiwara terbesar negara--dan kadang dunia--bung!


Senin, 10 Oktober 2016

Yang Tak Terucapkan

Kau tahu, aku takut.
Sangat takut, bahkan mungkin tak pernah lebih takut dari ini.
Rasa takut itu, enggan kudeskripsikan rasanya.
Sebab saat akhirnya kudeskripsikan dan kututurkan dalam kata
Akan banyak yang menafsirkannya, dan tak akan kupungkiri akan banyak yang menafsirkan berbeda dengan yang kumaksudkan.

Bahkan saat aku menulis ini, sebenarnya aku enggan.
Tapi aku tahu kau harus tahu, atau setidaknya aku harus bercerita.
Dan kali ini, persetan dengan tulisan yang multitafsir.
Kalau tak bercerita, kau tak akan memahaminya, aku tahu itu.
Dan aku nyaris meledak sekarang, karena semuanya kusimpan sendiri.

Kau tahu, sebenarnya aku sangat sayang padamu.
Walaupun kadang aku bertingkah seolah sebaliknya.
Kadang kasar, keras membentakmu.
Untuk kesekian kalinya aku lepas kendali.
Karena memilih tidak berkata-kata.

Dalam benakku, masih tersimpan setumpuk kata-kata.
Yang selama ini enggan aku ungkapkan.
Karena kemungkinan multitafsir, dan beberapa kali
Bukankah kita berselisih paham karenanya
Dan aku hanya bisa duduk diam di sini, kadang menangis.

Bukan pedih, hanya sedih.
Sulit mengatakannya padamu.
Meskipun sebenarnya, banyak hal yang kusimpan
Dan aku tak punya cukup keberanian mengungkapkannya padamu.

Aku menyayangimu, kesayanganku.

Kutulis saja di sini, sebab akan terdengar menggelikan kalau kuucapkan lisan sambil berbisik di telingamu.
Tak akan terlihat seindah di drama-drama romantis yang diputar di bioskop.
Dan kalaupun kuucapkan langsung, kau tak akan percaya juga.


Untukmu, Mrx
Serpong, 10 Oktober 2016
A. J. G. W. L.

Selasa, 13 September 2016

Kursi

Kau duduki kursi itu
Dengan puas serta bangga
Sebab benar memang hasil kerjamu
Sebab memang itu cita-citamu

Kau duduki kursi itu
Dengan penuh kecintaan
Sebab disanjung-sanjunglah engkau
Sebab tinggilah harkatmu di sana

Kau duduki kursi itu
Dengan kebanggaan atas semua kebohongan
Dengan kebahagiaan atas kemunafikan
Atas segala kehebatan yang engkau elu-elukan

Kursi itu
Yang engkau rebutkan dengan penuh perjuangan
Yang kau idam-idamkan sepanjang hidup
Kini milikmu sudah

Kursi itu
Yang seharusnya kau isi dengan keindahan
Yang seharusnya kau isi dengan kebahagiaan
Kini kau salah gunakan

8 September 2016
14.40 WIB
A. Gabriel Winoto

Rabu, 03 September 2014

Maaf Mbak, Saya Terpaksa Mengkritikmu



"Saya berpendapat, bahwa yang bahasa yang harus kita kuasai adalah bahasa kita sendiri.......Kemudian baru menguasai bahasa asing......."
Itu kata-kata mendiang Bung Karno yang tertulis di buku biografinya yang ditulis oleh Roso Daras (lihat hal. 145 buku Total Bung Karno). Dan malam ini saya melihat seorang public figure mengkritik kemampuan bahasa Inggris Jokowi, dan kesimpulan saya, ia malu Jokowi berbicara dengan Bahasa Jawa di CNN.
Pertanyaan saya begitu mendasar ;
1. Apakah anda mau dipimpin oleh seorang Presiden yang fasih berbahasa asing namun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang politik?
2. Apakah kepandaian seseorang berbahasa asing dapat dijadikan tolak ukur kepandaiannya di bidang politik dan pemerintahan?
3. Apakah dari tingkah lakunya (ambillah sepanjang hari ini saja) mencontohkan bahwa ia seorang yang "jantan"?
4. Apakah anda mau dipimpin oleh seorang presiden yang karena pelanggaran HAM (maaf) telah dilarang masuk ke berbagai negara?


Jangan katakan Indonesia harus bisa berdiri sendiri, mandiri, dsb. Bagaimanapun kita tidak bisa hidup tanpa punya hubungan dengan negara lain, bukan?Mungkin Pak Jokowi tidak fasih berbahasa Inggris. Tetapi jangan menilai beliau hanya dari sisi itu saja. Beliau dicintai rakyatnya, dan hasil kerja beliau adalah nyata.
(via Facebook, by Gabriel Winoto
22 Juli 2014)
Itu posting saya tadi malam, dan hari ini saya masih ingin bicara lagi. Ini bukan larangan kebebasan berpendapat seperti yang saya temukan kemarin malam, namun lebih ke menanggapi pendapat saja. Cukup membuat saya malu kalau tiba-tiba ada orang mengatakan bahwa orang yang terang-terangan dilarang oleh negara adikuasa AS untuk masuk ke negara mereka karena kasus HAM lebih pantas memimpin negara hanya karena ia menguasai satu bahasa asing dengan lebih baik, bukan? Lalu, apakah orang yang terkena kasus HAM tadi, karena kepandaiannya berbahasa asing mampu memajukan negaranya? Tentu saja tidak, bukan? Karena ia sendiri sudah merupakan halangan bagi negara yang dipimpinnya untuk maju.
Lalu coba pikirkan, apakah sebuah negara bisa maju kalau tak boleh turun ke pasar bebas? Mungkin bukan tidak mungkin, namun cobalah pikirkan ulang. Betapa prosesnya lama dan berbelit-belit kalau begitu?

Nah sudah, kritik saya ini saja dulu. Mungkin kapan-kapan saya lanjut lagi dengan judul yang berbeda. Untuk mbak yang saya kritik, tolong buka pikiran anda, ya. Jangan bersembunyi dibalik tempurung terus. Kepandaianmu secara intelektual tidak akan berguna kalau pemikiranmu seperti ini ya, mbak.
ttd,
23 Juli 2014
Gabriel Winoto

 
biz.