Rabu, 03 September 2014

Maaf Mbak, Saya Terpaksa Mengkritikmu



"Saya berpendapat, bahwa yang bahasa yang harus kita kuasai adalah bahasa kita sendiri.......Kemudian baru menguasai bahasa asing......."
Itu kata-kata mendiang Bung Karno yang tertulis di buku biografinya yang ditulis oleh Roso Daras (lihat hal. 145 buku Total Bung Karno). Dan malam ini saya melihat seorang public figure mengkritik kemampuan bahasa Inggris Jokowi, dan kesimpulan saya, ia malu Jokowi berbicara dengan Bahasa Jawa di CNN.
Pertanyaan saya begitu mendasar ;
1. Apakah anda mau dipimpin oleh seorang Presiden yang fasih berbahasa asing namun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang politik?
2. Apakah kepandaian seseorang berbahasa asing dapat dijadikan tolak ukur kepandaiannya di bidang politik dan pemerintahan?
3. Apakah dari tingkah lakunya (ambillah sepanjang hari ini saja) mencontohkan bahwa ia seorang yang "jantan"?
4. Apakah anda mau dipimpin oleh seorang presiden yang karena pelanggaran HAM (maaf) telah dilarang masuk ke berbagai negara?


Jangan katakan Indonesia harus bisa berdiri sendiri, mandiri, dsb. Bagaimanapun kita tidak bisa hidup tanpa punya hubungan dengan negara lain, bukan?Mungkin Pak Jokowi tidak fasih berbahasa Inggris. Tetapi jangan menilai beliau hanya dari sisi itu saja. Beliau dicintai rakyatnya, dan hasil kerja beliau adalah nyata.
(via Facebook, by Gabriel Winoto
22 Juli 2014)
Itu posting saya tadi malam, dan hari ini saya masih ingin bicara lagi. Ini bukan larangan kebebasan berpendapat seperti yang saya temukan kemarin malam, namun lebih ke menanggapi pendapat saja. Cukup membuat saya malu kalau tiba-tiba ada orang mengatakan bahwa orang yang terang-terangan dilarang oleh negara adikuasa AS untuk masuk ke negara mereka karena kasus HAM lebih pantas memimpin negara hanya karena ia menguasai satu bahasa asing dengan lebih baik, bukan? Lalu, apakah orang yang terkena kasus HAM tadi, karena kepandaiannya berbahasa asing mampu memajukan negaranya? Tentu saja tidak, bukan? Karena ia sendiri sudah merupakan halangan bagi negara yang dipimpinnya untuk maju.
Lalu coba pikirkan, apakah sebuah negara bisa maju kalau tak boleh turun ke pasar bebas? Mungkin bukan tidak mungkin, namun cobalah pikirkan ulang. Betapa prosesnya lama dan berbelit-belit kalau begitu?

Nah sudah, kritik saya ini saja dulu. Mungkin kapan-kapan saya lanjut lagi dengan judul yang berbeda. Untuk mbak yang saya kritik, tolong buka pikiran anda, ya. Jangan bersembunyi dibalik tempurung terus. Kepandaianmu secara intelektual tidak akan berguna kalau pemikiranmu seperti ini ya, mbak.
ttd,
23 Juli 2014
Gabriel Winoto

@gabrielwinoto

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.