Senin, 10 Oktober 2016

Yang Tak Terucapkan

Kau tahu, aku takut.
Sangat takut, bahkan mungkin tak pernah lebih takut dari ini.
Rasa takut itu, enggan kudeskripsikan rasanya.
Sebab saat akhirnya kudeskripsikan dan kututurkan dalam kata
Akan banyak yang menafsirkannya, dan tak akan kupungkiri akan banyak yang menafsirkan berbeda dengan yang kumaksudkan.

Bahkan saat aku menulis ini, sebenarnya aku enggan.
Tapi aku tahu kau harus tahu, atau setidaknya aku harus bercerita.
Dan kali ini, persetan dengan tulisan yang multitafsir.
Kalau tak bercerita, kau tak akan memahaminya, aku tahu itu.
Dan aku nyaris meledak sekarang, karena semuanya kusimpan sendiri.

Kau tahu, sebenarnya aku sangat sayang padamu.
Walaupun kadang aku bertingkah seolah sebaliknya.
Kadang kasar, keras membentakmu.
Untuk kesekian kalinya aku lepas kendali.
Karena memilih tidak berkata-kata.

Dalam benakku, masih tersimpan setumpuk kata-kata.
Yang selama ini enggan aku ungkapkan.
Karena kemungkinan multitafsir, dan beberapa kali
Bukankah kita berselisih paham karenanya
Dan aku hanya bisa duduk diam di sini, kadang menangis.

Bukan pedih, hanya sedih.
Sulit mengatakannya padamu.
Meskipun sebenarnya, banyak hal yang kusimpan
Dan aku tak punya cukup keberanian mengungkapkannya padamu.

Aku menyayangimu, kesayanganku.

Kutulis saja di sini, sebab akan terdengar menggelikan kalau kuucapkan lisan sambil berbisik di telingamu.
Tak akan terlihat seindah di drama-drama romantis yang diputar di bioskop.
Dan kalaupun kuucapkan langsung, kau tak akan percaya juga.


Untukmu, Mrx
Serpong, 10 Oktober 2016
A. J. G. W. L.

@gabrielwinoto

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

 
biz.